Batuk rejan atau pertusis disebabkan oleh bakteri yang menginfeksi paru-paru dan saluran pernapasan. Bordetella pertussis adalah jenis bakteri yang menjadi penyebab utama batuk rejan. Gejala khas dari batuk rejan adalah batuk keras yang tidak terkendali sampai pengidapnya kesulitan bernapas.
Setelah batuk sembuh, pengidap pertusis sering kali perlu menarik napas dalam-dalam yang menghasilkan suara “rejan”. Penyakit ini sangat menular dan lebih rentan menyerang anak-anak. Jika menyerang anak-anak dan lansia, batuk rejan dapat berakibat fatal, terutama pada bayi yang belum cukup umur untuk mendapatkan vaksin pertusis.

Pemberian vaksin DPT adalah satu-satunya cara untuk menurunkan risiko batuk rejan. Seseorang yang tidak mendapatkannya lebih berisiko terinfeksi bakteri Bordetella pertussis. Kelompok individu berikut ini lebih rentan terserang batuk rejan karena belum cukup umur untuk mendapatkan vaksin atau mengidap kondisi tertentu:
Mengenal Batuk Rejan Atau Pertusis, Dari Gejala Hingga Cara Mengatasi
Penyebab batuk rejan adalah infeksi bakteri Bordetella pertussis yang bisa menyebar melalui udara. Mulanya, bakteri ini menyerang dinding trakea dan bronkus (percabangan trakea yang menuju ke paru-paru kanan dan kiri). Kemudian saluran udara membengkak sebagai hasil reaksi dari infeksi bakteri. Alhasil, pembengkakan saluran udara membuat pengidap harus menarik napas dengan kuat melalui mulut karena kesulitan bernapas. Hasil tarikan napas yang kuat inilah yang memunculkan bunyi dengkingan yang panjang.
Saat bakteri menginfeksi dinding saluran udara, maka tubuh akan memproduksi lendir kental. Inilah mengapa tubuh akan merangsang pengidap untuk mengeluarkan lendir kental tersebut dengan cara batuk.
Umumnya, gejala batuk rejan dapat muncul antara 7 hingga 21 hari setelah bakteri bordetella pertussis masuk ke dalam saluran pernapasan. Gejala batuk rejan dapat terbagi menjadi tiga tahapan terutama pada bayi dan anak-anak, yaitu:
Fakta Tentang Batuk Rejan Yang Dapat Dialami Anak
Pada tahap awal ini, gejala yang muncul masih termasuk ringan, seperti bersin-bersin, hidung berair dan tersumbat, mata berair, radang tenggorokan, batuk ringan, hingga demam. Tahap ini bisa berlangsung hingga dua minggu, dan di tahap inilah, pengidap batuk rejan berisiko menularkannya ke orang-orang di sekelilingnya.
Tahap ini ditandai dengan meredanya semua gejala-gejala flu, tetapi batuk justru bertambah parah dan tak terkontrol. Pengidap kemudian akan batuk keras terus-menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut. Setelah serangan batuk, bayi dan anak-anak yang mengalami batuk rejan bisa mengalami muntah serta tubuh mengalami kelelahan. Kondisi ini bisa berlangsung sekitar 2-4 minggu atau lebih.
Nah, di tahap inilah tubuh mulai membaik, tetapi gejala batuk rejan tetap ada bahkan bisa batuk lebih keras. Tahap pemulihan ini bisa bertahan hingga dua bulan atau lebih tergantung dari pengobatan. Berikut beberapa kondisi yang harus segera ditangani oleh dokter:
Batuk Rejan Dan Gejalanya Pada Anak, Jangan Disepelekan Ya, Moms!
Pertama-tama dokter perlu bertanya soal riwayat kesehatan pengidap dan gejala yang dirasakannya saat ini. Dokter bisa saja salah mendiagnosis batuk rejan sebagai flu biasa atau infeksi pernapasan lainnya karena batuk rejan pada orang dewasa biasanya tidak menyebabkan gejala yang parah.
Namun, jika batuk terjadi terus-menerus, dokter bisa merekomendasikan tes medis lebih lanjut untuk mendiagnosis masalah. Pemeriksaan yang bisa dilakukan bisa mencakup swab nasofaring, yang dilakukan dengan mengambil sampel lendir melalui hidung untuk menganalisis adanya bakteri B. pertussis.
Batuk rejan yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi. Namun, komplikasi yang dialami pengidap batuk rejan bisa berbeda-beda tergantung usia. Pada bayi, terutama yang masih berusia di bawah 6 bulan bisa mengalami komplikasi yang mengancam nyawa, seperti:
Gejala Anak Alami Batuk Rejan Jangan Diabaikan Ya, Bun!
Batuk rejan tidak bisa diobati menggunakan obat batuk biasa yang dijual di pasaran. Pengobatannya pun bisa berbeda-beda tergantung usia dan keparahan gejala. Berikut jenis-jenis pengobatan batuk rejan sesuai usia:
Pada bayi dan anak-anak, mereka perlu ditempatkan di ruang isolasi untuk menghindari penyebaran infeksi. Pengobatan utama yang diberikan adalah antibiotik untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Obat tersebut dapat diberikan melalui infus atau langsung. Sungkup oksigen juga dapat diberikan untuk membantu pengidapnya bernapas.
Bayi dan anak-anak dengan batuk rejan yang cukup parah biasanya berisiko mengalami kerusakan paru-paru. Oleh karena itu, penanganan khusus di rumah sakit akan berkonsentrasi pada pemakaian alat bantu pernapasan (ventilasi) dan pemberian obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah mereka dengan obat-obatan.
Si Kecil Mengidap Batuk Rejan, Ibu Harus Apa?
Pada keadaan yang lebih parah, dokter dapat melakukan Oksigenasi Membran Ekstrakorporeal (ECMO yaitu extracorporeal membrane oxygenation). Prosedur ini dilakukan dengan mengalirkan oksigen langsung ke tubuh tanpa melewati paru-paru. Prosedur ini akan diberikan jika teknik yang lain tidak berhasil dan paru-paru sudah mengalami kerusakan cukup parah.

Pada pengidap remaja dan dewasa, batuk rejan biasanya dapat ditangani di rumah. Dokter akan memberikan obat yang mampu mencegah perkembangan bakteri. Beberapa langkah perawatan yang bisa dilakukan sendiri di rumah adalah:
Cara terbaik untuk mencegah batuk rejan adalah dengan mendapatkan vaksinasi pertusis. Biasanya vaksin ini diberikan bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, polio (vaksin DPT) dan Hib. Ibu hamil juga perlu mendapatkan vaksinasi pertusis untuk mencegah infeksi pertusis pada bayi di minggu-minggu awal usai kelahiran. Vaksinasi pertusis akan ditawarkan pada semua wanita hamil saat usia kehamilan mencapai 28-38 minggu.
Cara Mengatasi Batuk Berdahak Pada Anak Yang Bisa Dilakukan
Selain pada ibu hamil dan bayi, vaksinasi pertusis tambahan (booster ) perlu diberikan karena fungsi perlindungannya cenderung melemah seiring waktu. Vaksinasi tambahan ini bisa diberikan ketika:
Batuk rejan tidak boleh disepelekan dan perlu ditangani dokter sesegera mungkin sebelum bertambah parah atau menular ke orang lain. Jika mengalami tanda-tanda di atas, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter.
Referensi: WebMD. Diakses pada 2022. Whooping Cough: Causes, Symptoms, and Treatment. Medical News Today. Diakses pada 2022. What to know about whooping cough in adults.Batuk rejan atau pertusis adalah infeksi bakteri pada saluran pernapasan dan paru-paru. Penyakit ini sangat mudah menular dan bisa mengancam nyawa, terutama bila menyerang bayi dan anak-anak.
Pertusis: Batuk Rejan Seratus Hari Yang Makin Eksis
) biasanya ditandai dengan rentetan batuk keras yang terjadi secara terus-menerus. Umumnya, batuk rejan sering diawali dengan bunyi tarikan napas panjang melengking khas yang terdengar mirip “
Meski sama-sama ditandai dengan batuk terus menerus, pertusis berbeda dengan tuberkulosis (TB). Selain disebabkan oleh jenis bakteri yang berbeda, tuberkulosis biasanya menyebabkan batuk lebih dari 2 minggu, keringat di malam hari, berat badan turun drastis, dan batuk berdarah.

Yang masuk ke dalam tubuh akan melepaskan racun dan menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan. Tubuh penderita lalu merespons dengan meningkatkan produksi lendir untuk menangkap bakteri, yang selanjutnya dikeluarkan melalui batuk secara terus-menerus.
Batuk Rejan Pada Bayi, Ketahui Gejala Dan Cara Mencegahnya
Pada tahap awal, gejala batuk rejan berlangsung selama 1–2 minggu dan biasanya serupa dengan gejala batuk pilek. Penderita bisa mengalami keluhan berupa batuk ringan, bersin-bersin, pilek atau hidung tersumbat, mata merah dan berair, serta demam ringan.
Setelah tahap awal, penderita batuk rejan mengalami gejala tahap lanjut yang berlangsung selama 1–6 minggu. Pada tahap ini, gejala yang dialami bisa makin memburuk dan menimbulkan beragam keluhan, seperti:
Selain makin memburuk, durasi batuk rejan pada tahap lanjut bisa berlangsung lebih dari 1 menit. Frekuensinya juga menjadi lebih sering, terutama di malam hari.
Hal Yang Harus Dihindari Saat Batuk Rejan Kambuh
Tahap pemulihan batuk rejan bisa berlangsung selama 2–3 minggu. Pada tahap ini, tingkat keparahan dan frekuensi gejala mulai mereda secara bertahap. Namun, batuk bisa kambuh selama beberapa bulan jika penderita mengalami infeksi saluran pernapasan.
Jika menyerang bayi atau anak-anak, batuk rejan sering tidak menimbulkan gejala. Namun, bayi bisa mengalami keluhan berupa napas terhenti sementara (apnea) dan kulit bayi tampak membiru karena kekurangan oksigen.
Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda atau anak Anda mengalami gejala batuk rejan seperti yang telah dijelaskan di atas, terutama bila belum mendapatkan vaksin pertusis. Pemeriksaan dan penanganan perlu segera diberikan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Fakta Mengenai Batuk Rejan Yang Mesti Diketahui
Anda juga dianjurkan untuk segera memeriksakan diri bila menderita gangguan saluran pernapasan, penyakit jantung, dan obesitas. Tujuannya adalah untuk mengetahui penyebab batuk yang dialami dan mengontrol kondisi kesehatan Anda.
Untuk mendiagnosis batuk rejan, dokter akan melakukan tanya jawab seputar gejala yang dialami, riwayat kesehatan pasien, disertai pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang guna menegakkan diagnosis. Pemeriksaan tersebut meliputi:
Antibiotik bisa diberikan untuk membasmi bakteri dan mencegah kambuhnya gejala. Obat ini juga berguna untuk mencegah penyebaran infeksi ke bagian tubuh lain dan penularan penyakit ini ke orang lain. Meski begitu, pemberian obat antibiotik akan lebih efektif pada minggu-minggu awal infeksi.
Anak Aceh Terkonfirmasi Batuk 100 Hari, Ini Kiat Mencegahnya
Selain mengonsumsi antibiotik sesuai resep dokter, pasien dianjurkan untuk melakukan perawatan mandiri di rumah guna mempercepat penyembuhan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
Pasien boleh mengonsumsi obat demam dan pereda nyeri, seperti paracetamol, untuk meredakan demam atau sakit tenggorokan, tetapi dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Penting untuk diingat, hindari memberikan obat-obatan pereda nyeri pada anak-anak usia di bawah 4–6 tahun.
Perawatan di rumah sakit diperlukan bila batuk rejan terjadi pada bayi, anak dengan riwayat penyakit paru-paru, jantung, atau saraf, dan pasien dengan gejala berat. Hal ini karena pasien-pasien tersebut lebih berisiko mengalami komplikasi.
Cara Meredakan Batuk Berdahak Pada Bayi
Cara terbaik untuk mencegah batuk rejan adalah dengan melakukan vaksinasi atau imunisasi pertusis. Vaksin ini biasa diberikan dokter atau bidan bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, dan polio (vaksinasi DTP).

Imunisasi dasar untuk DTP diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Namun, jika ada beberapa faktor yang menyebabkan bayi tidak bisa melakukan imunisasi, orang tua disarankan untuk membawa anak untuk melakukan imunisasi kejaran (
) agar manfaatnya lebih optimal. Imunisasi ini dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu pada usia 18 bulan, 5 tahun, 10–12 tahun, dan 18 tahun. Imunisasi